Genangan air setinggi 10 sentimeter membatasi laju kendaraan di Flyover Pesing, Jakarta Barat, pada Kamis pagi. Hujan deras yang mengguyur Ibu Kota sejak subuh ternyata tidak hanya membasahi tanah, tetapi juga meluap hingga ke jalan layang yang seharusnya aman dari banjir.
Situasi ini sontak menghebohkan warganet setelah video mobil dan motor melintas perlahan di tengah air viral di media sosial. Pemandangan yang sebenarnya sudah menjadi langganan di beberapa titik strategis Jakarta ini kembali memunculkan pertanyaan krusial tentang tata kelola drainase perkotaan.
Sebagian pengguna jalan terpaksa memperlambat laju kendaraan mereka. Air yang menggenang memanjang membuat risiko selip dan kecelakaan semakin nyata. Namun, fenomena ini juga menjadi cerminan buram tentang ketahanan infrastruktur Jakarta di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Kondisi Terkini Flyover Pesing dan Titik Rawan Lainnya
Kepala Bidang Operasional Satlantas Polres Metro Jakarta Barat, AKP Sudarmo, membenarkan adanya genangan di flyover tersebut. Dalam konfirmasinya, beliau menyebutkan ketinggian air bervariasi antara 0,5 hingga 10 sentimeter.
“Flyover Pesing arah Grogol, ketinggian 0,5 sampai dengan 10 cm bisa dilintasi, perlambatan sampai taman kota,” ujar AKP Sudarmo.
Namun, masalah tidak hanya terjadi di jalan layang itu sendiri. Petugas di lapangan juga melaporkan genangan di area putaran (U-turn) depan Samsat di Jalan Daan Mogot. Ketinggian air di lokasi ini lebih mengkhawatirkan, mencapai 10 hingga 15 sentimeter.
Meskipun ruas jalan utama di Jalan Daan Mogot masih dapat dilintasi, kondisi ini memicu kepadatan luar biasa. Petugas kepolisian terpaksa melakukan rekayasa arus lalu lintas dengan sebagian kendaraan dialihkan melalui jalur busway untuk mengurai antrean kendaraan yang macet total.
Pemicu Teknis Banjir Flyover: Curah Hujan dan Sistem Drainase
Banjir di jalan layang mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang. Logika dasar mengatakan bahwa jalan yang ditinggikan seharusnya terhindar dari genangan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal berbeda.
Ketinggian air hingga 10 sentimeter di Flyover Pesing menunjukkan bahwa sistem saluran pembuangan di area tersebut tidak mampu menampung luapan air hujan dalam intensitas tinggi. Curah hujan deras yang terjadi sejak Kamis pagi, 22 Januari 2026, menjadi pemicu utama.
Sistem drainase yang ada di bawah atau di sisi flyover mungkin tersumbat atau kapasitasnya sudah tidak memadai. Akibatnya, air yang mengalir dari permukaan jalan dan sekitarnya meluap ke atas badan jalan layang. Selain itu, posisi flyover yang memanjang seringkali menangkap air hujan secara langsung tanpa pelindung atap, membuatnya rentan terhadap genangan jika got mampet.
Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Pengguna Jalan
Dampak dari banjir di Flyover Pesing ini cukup luas. Tidak hanya gangguan fisik berupa tersendatnya arus kendaraan, tetapi juga memakan waktu dan biaya ekstra bagi masyarakat.
Para pemotor, khususnya, menjadi kelompok yang paling rentan. Mereka yang biasanya melaju kencang harus memperlambat kendaraan hingga hampir berhenti. Risiko terjatuh dan terseret arus air cukup tinggi jika tidak berhati-hati. Video viral di media sosial menunjukkan bagaimana para pengendara motor dengan sabar menembus genangan, namun wajah kekhawatiran jelas terlihat.
Selain itu, aktivitas perekonomian terhambat. Pengiriman logistik yang melintasi Flyover Pesing menuju Grogol dan sekitarnya tertunda. Waktu tempuh yang biasanya 15 menit bisa membengkak menjadi lebih dari satu jam. Ini adalah potensi kerugian ekonomi yang tidak sedikit, terutama bagi UMKM yang mengandalkan kelancaran distribusi barang.
Data dan Fakta Banjir Jakarta Barat Periode Ini
Banjir di Flyover Pesing merupakan salah satu dari beberapa titik banjir yang dilaporkan di Jakarta Barat pada hari yang sama. Berdasarkan data dari Sudin Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat, sejumlah titik lain juga mengalami genangan akibat hujan deras.
Beberapa lokasi tersebut meliputi:
- Jalan Daan Mogot: Genangan di sekitar Dobrak Samsat dengan ketinggian 15 cm.
- Kalideres: Beberapa titik rendah mulai terendam.
- Grogol Petamburan: Area perbatasan sering menjadi langganan genangan saat hujan deras.
Meskipun Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta telah menurunkan pompa air mobile di sejumlah titik, kinerja mereka seringkali kewalahan saat intensitas hujan melampaui kapasitas normal. Sistem pompa air yang ada saat ini mungkin hanya mampu mengatasi genangan permukaan, tetapi belum cukup untuk menangani luapan air dari saluran utama yang mampet.
Tanggapan Pihak Kepolisian dan Dinas Terkait
AKP Sudarmo menegaskan bahwa pihak kepolisian telah menurunkan personel di lapangan untuk mengatur lalu lintas. Namun, beliau juga mengimbau pengguna jalan untuk menghindari rute tersebut jika tidak mendesak.
“Kami himbau masyarakat untuk mencari alternatif jalan lain untuk menghindari genangan air, guna keselamatan bersama,” tambahnya.
Di sisi lain, pihak Dinas Bina Marga DKI Jakarta belum memberikan pernyataan resmi terkait penyebab teknis mengapa Flyover Pesing bisa terendam. Namun, berdasarkan standar operasional, pembersihan saluran air (got) di sekitar flyover biasanya dilakukan rutin setiap hari.
Akan tetapi, masalah seringkali muncul dari sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan. Sampah plastik dan sisa material pembangunan sering kali menyumbat mulut got, menghambat aliran air menuju pompa atau saluran utama. Ini menjadi masalah klasik yang belum sepenuhnya teratasi.
Solusi Jangka Panjang: Revitalisasi Infrastruktur Drainase
Banjir di Flyover Pesing ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan revitalisasi infrastruktur drainase secara menyeluruh. Mengandalkan sistem lama yang sudah puluhan tahun tidak mengalami perbaikan signifikan tidak akan cukup.
Salah satu solusi yang sering diusulkan pakar tata kota adalah penerapan konsep Low Impact Development (LID) atau drainase berkelanjutan. Konsep ini menekankan pengelolaan air hujan di sumbernya agar tidak langsung mengalir ke saluran pembuangan.
Implementasi green parking, atap hijau (green roof), dan resapan biopori di sekitar kawasan flyover bisa membantu mengurangi beban drainase. Selain itu, modernisasi sistem pompa air dengan teknologi yang lebih canggih dan berdaya tampung lebih besar juga perlu dipertimbangkan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memang telah menjalankan program normalisasi sungai dan pengerukan lumpur. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa perlu ada koordinasi yang lebih kuat antara dinas SDA, Bina Marga, dan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Peran Masyarakat dalam Mengatasi Banjir Kota
Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga fungsi drainase. Pembuangan sampah pada tempatnya adalah tindakan sederhana namun sangat berdampak.
Seringkali, saluran air di pinggir jalan utama seperti Jalan Daan Mogot menjadi tempat pembuangan akhir sampah rumah tangga. Ketika hujan datang, sampah-sampah ini terbawa air dan menyumbat saluran. Akibatnya, air meluap ke jalan raya.
Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan saluran air harus terus digencarkan. Kampanye social media dan kegiatan gotong royong di tingkat RT/RW dapat menjadi langkah preventif yang efektif untuk mencegah banjir di titik-titik rawan seperti Flyover Pesing.
Tips Aman Melintas Saat Banjir
Bagi pengendara yang terpaksa melintasi area genangan seperti di Flyover Pesing, ada beberapa tips penting yang harus diperhatikan untuk keselamatan:
- Periksa Ketinggian Air: Jika air setinggi lubang knalpot, jangan dipaksakan melintas karena air dapat masuk ke mesin dan menyebabkan mesin mati (water hammer).
- Matikan Mesin: Jika terpaksa melewati genangan dalam, pastikan Anda memperlambat kecepatan secara bertahap. Namun, jika air terlalu tinggi, lebih baik mencari jalan alternatif.
- Hindari Genangan Cepat: Air yang bergerak cepat berpotensi menyeret kendaraan. Tunggu hingga arus air sedikit tenang.
- Gunakan Jalur Aman: Di Flyover Pesing, meskipun ada genangan, ketinggian air masih di bawah 15 cm. Namun, tetap waspada terhadap lubang yang mungkin tertutup genangan.
Keselamatan jiwa jauh lebih berharga daripada terlambat sampai tujuan. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti arahan petugas di lapangan.
Kesimpulan: Tantangan Infrastruktur di Musim Hujan
Banjir di Flyover Pesing, Jakarta Barat, bukanlah insiden terisolasi. Ini adalah bagian dari siklus tahunan yang menunjukkan masih lemahnya ketahanan infrastruktur kota terhadap cuaca ekstrem. Hujan deras dengan durasi singkat namun intensitas tinggi memang menjadi tantangan baru di era perubahan iklim.
Pemerintah DKI Jakarta perlu melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh jalan layang dan jalan tol yang ada. Sistem drainage tidak boleh hanya mengandalkan gravitasi semata, tetapi harus didukung oleh teknologi pompa dan pemeliharaan rutin yang lebih ketat.
Harapannya, setelah peristiwa ini, ada tindakan cepat dari Dinas Bina Marga dan SDA untuk mengevaluasi dan memperbaiki titik-titik rawan banjir. Sehingga, ketika hujan deras kembali mengguyur Ibu Kota, Jakarta tidak lagi menjadi kota yang tergenang, melainkan kota yang siap menghadapi tantangan musim hujan dengan infrastruktur yang lebih tangguh.
Banjir di Flyover Pesing mungkin hanya setinggi betis, tetapi pesan yang dibawanya setinggi langit: Jakarta butuh pembenahan serius sebelum terlambat.