Pencalonan Wakil Menteri Keuangan, Thomas Djiwandono, atau yang akrab disapa Tommy, sebagai salah satu kandidat Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) memantik reaksi dari berbagai pihak. Salah satu respons krusial datang dari Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu. Dalam pernyataan resminya, Anggito memberikan lampu hijau sekaligus dukungan penuh terhadap figur yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Pemilihan Tommy untuk mengisi posisi strategis di Bank Indonesia tersebut dilakukan untuk menggantikan Juda Agung yang telah mengajukan pengunduran diri pada 13 Januari lalu. Proses pergantian ini tentu saja mendapat sorotan tajam, mengingat posisi Deputi Gubernur BI memiliki peran vital dalam menentukan arah kebijakan moneter nasional. Namun, Anggito Abimanyu memastikan bahwa proses seleksi yang dilakukan oleh Gubernur BI dan Presiden telah melalui pertimbangan matang.
Alasan Bos LPS Dukung Penuh Thomas Djiwandono
Anggito Abimanyu menegaskan bahwa ketiga nama yang diusulkan, termasuk Thomas Djiwandono, merupakan figur profesional dengan rekam jejak yang sudah tidak diragukan lagi. Dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (22/1), Anggito menyatakan bahwa dirinya mengenal baik seluruh kandidat yang diajukan oleh Gubernur BI, baik mereka yang berasal dari internal bank sentral maupun dari eksternal.
“Saya tahu tiga calon yang diajukan oleh Pak Gubernur, itu saya kenal semua. Baik yang dari Bank Indonesia, yaitu Pak Sodikin dan Pak Diki, maupun Pak Tommy. Tiga-tiganya adalah orang-orang yang profesional,” ujar Anggito dengan penuh keyakinan.
Pernyataan ini jelas menjadi angin segar mengingat latar belakang politik Thomas Djiwandono. Namun, Anggito menilai bahwa rekam jejak politik tidak serta-merta menjadi penghalang, apalagi jika tidak pernah digunakan untuk penyalahgunaan kekuasaan.
Profesionalisme Jadi Kunci Utama
Menurut Anggito, profesionalisme adalah kriteria mutlak yang harus dimiliki oleh setiap calon pimpinan di Bank Indonesia. Ia menilai bahwa Thomas Djiwandono telah membuktikan dedikasinya selama ini. Anggito bahkan menyebut telah lama bekerja bersama Tommy tanpa pernah menemukan indikasi penyalahgunaan afiliasi politik dalam menjalankan tugasnya.
“Meskipun pada waktunya ada label dari partai politik, tetapi saya tidak pernah mendengar satu kata pun ataupun satu tindakan yang mengatasnamakan itu,” jelasnya, menanggapi potensi kekhawatiran masyarakat terkait independensi calon deputi gubernur.
Keyakinan Anggito terhadap profesionalisme para kandidat ini menjadi pegangan utama dalam proses seleksi. Ia meyakini bahwa siapapun yang terpilih nantinya akan mampu menjalankan tugas dengan baik, menjaga integritas, dan memperkuat kinerja Bank Indonesia secara menyeluruh.
Sinergi dengan LPS dalam Kerangka KSSK
Aspek lain yang tidak kalah penting dalam penilaian Anggito adalah kemampuan para calon untuk menjalin sinergi dengan LPS. Dalam ekosistem sistem keuangan nasional, kerja sama antara Bank Indonesia dan LPS sangat krusial, terutama dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Anggito menyatakan optimistis bahwa siapapun yang terpilih dari tiga kandidat tersebut nantinya akan memperkuat internal BI sekaligus mempererat sinergi dengan LPS. Ia menilai bahwa Thomas Djiwandono, beserta dua kandidat lainnya, memiliki kapasitas untuk menjalankan mandat tersebut.
“Siapapun yang terpilih akan memperkuat internal BI maupun sinergi dengan LPS dalam forum KSSK,” ucapnya.
Sinergi ini penting karena tantangan di sektor keuangan nasional semakin kompleks. Dibutuhkan pemimpin yang mampu berkolaborasi lintas lembaga untuk menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.
Daftar Calon Deputi Gubernur BI
Selain Thomas Djiwandono, terdapat dua nama lain yang diajukan sebagai kandidat Deputi Gubernur BI. Keduanya adalah pejabat internal Bank Indonesia yang telah lama malang melintang di institusi tersebut. Dua nama tersebut adalah Sodikin dan Diki.
Anggito Abimanyu menyebut ketiga nama tersebut sudah melalui proses verifikasi dan seleksi yang ketat oleh Gubernur BI. Dari keterangan yang beredar, Juda Agung yang akan digantikan telah menjalankan tugasnya selama periode sebelumnya.
Posisi Deputi Gubernur BI sangat sentral karena bertanggung jawab langsung atas sejumlah bidang utama, termasuk stabilitas sistem keuangan, pengelolaan devisa, dan koordinasi kebijakan makroprudensial. Dengan demikian, sosok yang mengisi posisi ini harus memiliki keahlian teknis yang mumpuni.
Konteks Politik dan Tantangan Ekonomi
Pencalonan Thomas Djiwandono juga tidak bisa dilepaskan dari konteks politik saat ini. Sebagai keponakan presiden, langkahnya menuju jajaran pimpinan Bank Indonesia menjadi perhatian publik. Namun, komitmen untuk profesionalisme seperti yang ditegaskan Anggito Abimanyu menjadi kunci untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul.
Tantangan ekonomi global yang tidak menentu memerlukan respons kebijakan yang tepat dan cepat. Bank Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang solid untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi. Anggito meyakini bahwa latar belakang Thomas Djiwandono di Kementerian Keuangan dapat menjadi nilai tambah bagi BI.
Pengalaman di Kementerian Keuangan memberikan pemahaman yang baik tentang koordinasi fiskal dan moneter. Hal ini sejalan dengan kebutuhan BI untuk menjaga harmonisasi kebijakan antara kebijakan fiskal dan moneter.
Proses Seleksi dan Pengajuan ke DPR
Proses pengajuan tiga nama kandidat Deputi Gubernur BI telah diserahkan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mendapatkan persetujuan. DPR akan melakukan uji kelayakan (fit and proper test) terhadap ketiga kandidat tersebut.
Uji kelayakan ini menjadi tahap krusial untuk memastikan bahwa figur yang terpilih benar-benar kompeten dan memiliki integritas yang tinggi. Anggito Abimanyu sendiri telah menyatakan kesiapannya untuk mendukung proses ini.
Komentar Anggito di konferensi pers tersebut juga merupakan bagian dari transparansi yang diperlihatkan oleh LPS terhadap publik. Dengan adanya pernyataan dukungan dari lembaga independen seperti LPS, diharapkan masyarakat bisa lebih percaya dengan proses seleksi yang berjalan.
Harapan untuk Stabilitas Sistem Keuangan
Masuknya figur profesional seperti Thomas Djiwandono diharapkan dapat membawa angin segar bagi Bank Indonesia. Terlebih, Juda Agung yang meninggalkan posisi tersebut telah melakukan tugasnya dengan baik. Transisi kepemimpinan ini menjadi momentum untuk evaluasi dan penyegaran.
Anggito Abimanyu mengakhiri pernyataannya dengan keyakinan bahwa siapapun yang terpilih nantinya akan memberikan kontribusi positif. “Saya cukup yakin ketiga calon yang diajukan oleh Pak Gubernur dan oleh Bapak Presiden ke DPR itu adalah orang-orang yang profesional,” tutupnya.
Dengan dukungan penuh dari Bos LPS ini, Thomas Djiwandono memiliki modal sosial yang cukup kuat untuk melanjutkan proses seleksi di DPR. Perhatian publik kini tertuju pada bagaimana proses fit and proper test akan berlangsung dan siapa yang nantinya akan terpilih memegang tongkat estafet Deputi Gubernur Bank Indonesia.